KPPGPPL BLOG: Amorphophallus
Tampilkan postingan dengan label Amorphophallus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amorphophallus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2015

Gunung Patah Bukit Raje Mendare

Gunung Patah adalah sebuah dataran tinggi berbentuk Gunung yang terletak di negara Indonesia, Provinsi Bengkulu yang memiliki ketinggian 2817 mdpl, atau setara dengan 7175 kaki. Pada tanggal 1 Mei 1989, sebuah kawah aktif fumarol diamati oleh pilot pesawat kargo di daerah yang diselimuti hutan sekitar 6 km tenggara dari puncak Gunung Patah, dekat Bukit Baturigis Padang Guci Hulu Kab. Kaur Bengkulu (sekitar 4 deg 18 min S, 103 deg 19 min E). 


Lokasi Gunung Patah berada diperbatasan 3 provinsi, yaitu Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung atau yang secara administratif tepatnya terletak di kawasan HL Bukit Raje Mendare Padang Guci Hulu Kab.Kaur Bengkulu Indonesia. (Sumber: Internet)

Pada ketinggian 2450 mdpl terdapat danau sewarna bumi oleh penduduk lokal dinamakan "Danau Tumutan 7" yang merupakan sumber mata air dari 7 sungai. Pada ketinggian 2650 mdpl terdapat Kawah & Puncak Gunung Pada ketinggian 2817 mdpl.

Bukit Raje Mendare merupakan hutan hujan Sumatra yang masih perawan dan menyimpan kekayaan alam yang sangat menawan. Keberadaan Flora dan fauna langka yg semakin terancam funah seperti; Rafflesia, Amorphophallus, Kantong Semar, Anggrek, Gajah, Harimau, Rusa, Beruang, Paok Schneider, Pitta schneider, siamang, dll kemungkinan masih bisa dijumpai disini.

Selain itu Bukit Rajemendare dipercayai oleh penduduk lokal sebagai cikal bakal Kerajaan Seriwijaya. (KPPGPPL)

Catatan perjalanan lengkap tim Ekspedisi Gunung Patah secara tertulis akan segera di realese oleh tim yang terdiri dari gabungan pendaki Alumni Kampala FP Unib dan Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka (KPPGPPL) di kaskus oanc. Report resmi lengkap (on progress).

‪#‎XPDC‬ Gunung Patah With Jack Rimba, Triputra Kesuma, Muaz Gimilang, Nopri Anto & Amix Gegep

Situs Megalitik Batu Monolith Padang Guci

Megalitik Padang Guci secara administratif berada di Desa Bungin Tambun 3, Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Secara astronomis, situs ini berada pada titik koordinat S 04º 28’32.4″ E 103º 14’58.4 ” Berdasarkan bentangan alamnya, lokasi tinggalan megalitik Padang Guci berada sekitar 500 meter arah timur dari Sungai Padang Guci. 


Pada profil monolit secara menyeluruh tidak nampak ada jejak pengerjaan. Monolith yang memiliki ukuran Panjang 2 m dan lebar 0,75 m ini, merupakan jenis batu andesit.

Pada awalnya di sekitar monolith terdapat batu dengan ukuran yang lebih kecil dan rotan yang sudah membatu, namun pada tahun 2008 ketika didirikan cungkup di atasnya, batu dan rotan tesebut dipindahkan. Keberadaan tinggalan megalitik berupa monolith di lokasi ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai tempat berziarah (puyang). Kondisi tinggalan pada saat ini cukup terawat.

Upaya pelindungan telah dilakukan oleh pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata Kaur dengan dibuatkan cungkup sebagai pelindungan. Untuk pemeliharaannya
dinas telah menunjuk juru pelihara pada tahun 2008, namun pada tahun 2011 tidak dilanjutkan karena ada pertimbangan tertentu.

‪#‎KPPGPPL‬
Info & Foto : BPCB Jambi

Jumat, 20 Maret 2015

Bunga Bangkai ( Amorphophallus Titanum) Mekar di Kab. Kaur

Bunga bangkai ini dipergoki warga Padang Guci Hulu beberapa hari yang lalu sedang mekar disekitar wilayah perkebunan Cancap Padang Guci Hulu Kab.Kaur.

Bagi warga Padang Guci Bunga ini dikenal dengan sebutan Bunge Keghubut. Info & Foto by Teddy Cepak (KPPGPPL)

Amorphophallus titanum atau Titan Arum atau biasa disebut Bunga Bangkai merupakan tumbuhan asli Sumatera yang terkenal memiliki kelopak raksasa serta bau tak sedap layaknya daging busuk.

Bunganya sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti lingga (sebenarnya adalah tongkol atau spadix) yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar.

Bunganya berumah satu dan protogini: bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri.