KPPGPPL BLOG: Jenis Rafflesia Bengkulu
Tampilkan postingan dengan label Jenis Rafflesia Bengkulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jenis Rafflesia Bengkulu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2015

Pemerintah luncurkan strategi konservasi Rafflesia

Bengkulu (ANTARA News) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan meluncurkan dokumen strategi rencana aksi konservasi flora langka Rafflesia spp dan Amorphophallus spp di Bengkulu, Selasa.

Pada peluncuran strategi di sela simposium tentang Rafflesia dan Amorphophallus, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Hendri Bastaman mengatakan dua bunga langka itu merupakan flora pertama yang punya Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK).

"Selama ini perhatian peneliti dan pemerintah lebih ke arah fauna sedangkan flora baru Rafflesia dan Amorphophallus yang memiliki SRAK," katanya.

Hendri mengatakan strategi konservasi yang berlaku hingga 2025 itu antara lain meliputi peran masing-masing pemangku kepentingan dalam upaya konservasi dan target hasilnya. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati mengatakan SRAK juga mengatur pengenaan sanksi bagi lembaga yang tidak menjalankan peran mereka dalam kegiatan konservasi dua flora langka itu.

"Diatur siapa yang melakukan apa dan akan ada hukuman bagi lembaga yang tidak menjalankan peran," katanya.

Peran masyarakat dalam pelestarian dan pemanfaatan dua bunga langka itu, menurut Enny, juga diatur dalam SRAK.

Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah berharap SRAK bisa menjadi panduan dalam pelestarian bunga langka tersebut.

"Kami bangga memiliki bunga raksasa yang tumbuh di hutan Bengkulu karena itu kami berharap SRAK ini benar-benar dijalankan," katanya.

Hendri mengatakan dokumen SRAK tersebut akan ditetapkan sebagai produk hukum berbentuk Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan setelah simposium internasional mengenai Rafflesia spp dan Amorpophallus spp yang berlangsung 14 sampai 16 September 2015.

"Ibu Menteri siap menandatangani dan menetapkan SRAK ini setelah simposium," katanya.

Saat ini ada empat jenis Rafflesia di hutan tropis Bengkulu, antara lain jenis Rafflesia arnoldii , Rafflesia gadutensis , Rafflesia hasselti dan Rafflesia bengkuluensis.

Adapun jenis Amorphophallus yang terdata di daerah ini antara lain Amorphophallus titanum, Amorphophallus variabilis , Amorphophallus phaeonifolius dan Amorphophallus gigas .

Source by: antaranews.com
Foto by Patris KPPGPPL

Sabtu, 22 Agustus 2015

Rafflesia Gadutensis Meijer

Rafflesia gadutensis merupakan salah satu jenis dari empat jenis rafflesia yang tumbuh di hutan Bengkulu yakni; R. arnoldii, R. Gadutensis Meijer, R. Hasseltii Suringar, dan R. Bengkuluensis. Jenis ini dapat ditemukan di sisi barat Pegunungan Bukit Barisan Kab.Mukomuko, Kab. Bengkulu Utara, Padang Sumatra Barat dan sekitarnya. Nama jenis ini diambil dari nama tempat atau tipe lokalitas dimana herbarium spesimen dikumpulkan yaitu Ulu Gadut, Padang, Sumatra Barat. Asal specimen species ini dideskripsikan oleh Meijer tahun 1984.

Rafflesia gadutensis memiliki ukuran sekitar 40-46 cm. Helai perigonnya dan permukaan atas diaphragma mempunyai warna merah maron muda. Bercak di bagian atas helai perigon dan diaphragma mempunyai ukuran yang seragam dan berwarna merah muda. Jumlah bercak di helai perigon paling panjang berkisar 10-12 buah. Di perigon, bercak mempunyai ukuran lebih besar dari pada bercak pada rafflesia arnoldii, dan kadang-kadang berdempetan dibagian bawah dekat diaphragma.

Jenis ini termasuk kelompok R. hasseltii komplek. Ramenta jenis memiliki dua jenis yaitu; ramenta dengan ujung atasnya membengkak (crateriform) dan tipe jamur (toadstool). Tipe crateriform hanya dapat dijumpai disepanjang bagian dalam permukaan tabung perigon. Sedangkan tipe jamur dijumpai dibagian bawah permukaan dalam diaphragma. Jumlah prosesi sebanyak 17-30, sedangkan jumlah anther jantan sebanyak 30 (Meijer, 1997).

Salam Lestari ! KPPGPPL

Daftar Pustaka:
Rafflesia pesona bunga terbesar di dunia ©Agus Susatya 2011